003. Metode Dogmatika
003. METODA DOGMATIKA
Ada beberapa metode dogmatika yang diulas oleh Jongeneel dalam bukunya “Pembimbing ke Dalam Dogmatika Kristen”, diantaranya:
(a). Metode Deduktif
Metode ini seringpula disebut metode dogamtis, sebab bertolak dari dogmata = aksioma-aksioma tertentu dan yang menarik kesimpulan-kesimpulan logis dari dogmata tersebut. Metode ini merupakan metode dogmatik klasik. Metode ini bertolak dari kepercayaan kepada Allah (teosentris) dan yang pada akhir zaman berbicara kepada kita melalui perantaraan Anak-Nya (Ibrani 1:1), dan menurunkan dari situ kebenaran-kebenaran yang kekal dan berlaku universal, yang mempunyai karakter yang mutlak.
Menurut Jongeneel, beberapa teolog seperti O. Weber juga W. Pannenberg banyak berbicara mengenai pokok iman Kristen yang cukup menampakan cara deduktif yaitu “dari atas” yaitu ajaran iman Kristen yang dimulai dari suatu aksioma Allah (yang “dia atas”) dan menampakan diri dalam Yesus Kristus kepada manusia “di bawah” yaitu bumi. Metode inipun nampak pula dalam buku dogmatika yang dituliskan oleh R. Soedarmo dan Harun Hadiwijono. Struktur metode deduktif digambarkannya demikian:
- Allah “di tempat yang maha tinggi” (Lukas 2:14) yaitu surga
- Penyataan Allah dalam Yesus Kristus “pada akhir zaman ini (Ibrani 1:1), di bumi
- Iman Kristen sebagai reaksi orang percaya di bumi atas penyataan Allah dalam Yesus Kristus
- Pengakuan iman Kristen di hadapan hadiran Allah dan sesama manusia
- Kemudian diturunkan kebenaran-kebenaran dalam bentuk dogmatik atau ajaran iman Kristen.
(b). Metode Induktif
Metode ini bertolak belakang dengan metode deduktif. Metode ini mendasarkan pekerjaan ilmian yang menyelidiki hal-hal yang khusus dan berdasarkan itu berusaha untuk mencapai rumusan umum yang berlaku untuk semua hal yang khusus dari pokok yang sama itu. Metode ini sebetulnya menjadi minat para ilmuan bahwa para teolog modern yang beranggapan bahwa metode deduktif terlalu abstrak. Sebab bukankan iman Kristen itu harus mengalami konkritisasi. Dan upaya ini hanya bisa tercapai atau terjawab hanya apabila teologi sistematika (baca dogmatika) itu dirumuskan “dari bawah” yaitu manusia “di bumi” dan bukan dari Allah yang “di atas” atau “di surga”.
Metode ini mendapat tanggapan positif dari Jongeneel sendiri, sebab menurutnya dari situlah sebetulnya teologi itu dibangun. Teologi yang relevan adalah teologi yang dari situasi masa kini, dimana kehidupan manusia sedalam-dalamnya diselidiki, kemudian naik kepada perumusan-perumusan dan ucapan-ucapan teologis yang berlaku umum. Teologi haruslah bergerak “dari bawah” sebab dari situlah manusia menerima injil yang “kekal” itu dalam berbagai perumulan konteksnya yang mungkin pula sangat beragam dan partikular.
(c). Metode Korelasi
Metode ini sebelutnya pertama kali diperkenalkan oleh Paul Tillich yang mengembangkan tugas hermeneutik sebagai metode korelasi. Metode ini dimulai dengan penggalian masalah pada situasi konkrit “dari bawah”. Metode ini memperlihatkan sebuah upaya menerangkan isi kepercayaan (baca: iman) Kristen melalui masalah-masalah eksistensial yang rill dan mencari jawaban-jawaban teologis yang saling berkaitan.
Tillich menyimpulklan problematik analisis situasi demikian:
" ... akal budi manusia – keberadaan manusia – eksistensi manusia – kehidupan manusia – sejarah manusia. jawaban konkrit yang diberikan secara teologis dari Injil Yesus Kristus atas pertanyaan masa kini itu diuraikan demikian: Wahyu – Allah – Kristus – Roh Kudus – Kerajaan Allah. Hal ini memperlihatkan bahwa teologi ternyata menjadi teologi yang menjawab persoalan-persoalan eksistensial manusia itu dalam situasi konkritnya. Inilah yang dimaksudkan oleh Tillich sebagai sebuah upaya korelasi antara perhubungan injil yang “kekal” dengan kehidupan “sementara” di bumi yang menunjukan sebuah perjuangan atau perjumpaan yang tidak akan pernah selesai."
(d). Metode Integrasi
Bagi Jongeneel metode ini dapat diberikan dalam menggambarkan bidang dogmatika. Oleh karena injil Yesus Kristus tidak selalu memberikan jawaban yang konkrit atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial manusia masa kini, sebagaimana yang digambarkan dalam metode korelasi ala Tillich. Metode ini memiliki keterhubungan demikian; dalam dogmatika atau ajaran iman Kristen itu “diintegrasikan” unsur-unsur benar yang terdapat dalam, dan diperjuangkan baik oleh ilmu, maupun filsafat ataupun agama-agama bukan Kristen. Unsur-unsur yang dimaksudkan memang selalu berkaitan dengan aspek relatif iman Kristen itu sendiri yang menyangkut ekspresi, interpretasi ataupun aplikasi yang tergambar dalam ajaran. Sebab memang kalau menyangkut aspek mutlak yaitu inti sentral/Firman Tuhan, maka akan timbul bahaya sinkritisme. Oleh karena itu tugas dogmatika adalah “mengintegrasikan” injil Yesus Kristus ke dalam kehidupan manusia dan masyarakat kita.
Metode ini bergerak dalam dua arah, yaitu pengintegrasian kehidupan manusia dan masyarakat kita ke dalam Firman Allah dan juga sebaliknya upaya pengintegrasian Firman Allah itu ke dalam situasi aktual dan konkrit dalam kehidupan manusia dan masyarakat, baik masa kini ataupun masa yang akan datang.
Pembagian metode ini sekaligus memperlihatkan dogmatika merupakan bidang teologi yang berkembang dan dinamis dari masa ke masa. Sehingga tidak menjadi statis atau tinggal dalam pertimbangan-pertimbangan historis yang kaku dan mutlak itu. metode-metode ini sebetulnya tidaklah memperlihatkan bahwa perlunya mewajibkan atau memutlakkan pemakaian salah satu model saja. Meskipun demikian, banyak teolog termasuk kalangan gereja agaknya cenderung menjadikan model korelasi ataupun model induktif sebagai upaya membangun teologi dogmatiknya. Namun itu bukan berarti model ini menjadi lebih baik dari model-model dogmatika yang lainnya. Sebab masih pula banyak gereja yang masih mempertahankan berbagai ragam model tersebut.
Saya sendiri lebih memilih metode korelasi dalam membangun dogmatika, meskipun metode korelasi ala Tillich yang dimaksudkan adalah sebuah upaya korelasi dengan mencari jawaban teologis terhadap persoalan-persoalan eksistensial yang dihadapi manusia dan masyarakat pada konteks kekinian. Tetapi soal-soal eksistensial sangat berhubungan sekali dengan filsafat. Tetapi paling tidak kita bisa memaklumi pemikiran Tillich dalam konteks pengaruh pemikiran filsafat yang merajai dunia pemikiran saat itu termasuk teologi.
Model korelasi sebetulnya menampilkan sebuah upaya dialog yang kritis dan juga transformatif dalam membangun teologi. Dengan menggeserkan persoalan-persoalan eksistensial yang tidak hanya berurusan dengan filsafat (seperti yang dimaksudkan Tillich) kepada keterbukaan untuk berdialog dengan ilmu-ilmu lain yang seharusnya menjadi mitra dialog teologi akan benar-benar menjadikan dogmatika sebagai upaya berteologi yang benar-benar kontekstual.
GPM sebetulnya telah memberlakukan metode korelasi ini dalam merumuskan ajaran-ajaran gerejanya, termasuk pokok-pokok pengakuan imannya. Pembaharuan Teologi yang menjadi tema sentral dalam gaya berteologi gereja, termasuk pula model-model pembelajaran teologi di kampus telah memperlihatkan keseriusan kita untuk mendialogkan Injil Suci itu dengan berbagai pergumulan rill yang dihadapi umat dan masyarakat. Keterbukaan gereja kepada ilmu-ilmu lain sebagai mitra dialog, turut memperlihatkan kuatnya model korelasi ini dalam berbagai upaya kontekstualisasi dogmatika yang akhir-akhir ini giat dilakukan oleh para ahli dogmatika maupun GPM sendiri (Bersambung).


Tidak ada komentar: