004. Perkembangan Studi Dogmatika Dari Masa ke Masa

004. PERKEMBANGAN STUDI DOGMATIKA DARI MASA KE MASA
Andreas A. Yewangoe memperlihatkan perkembangan studi dogmatika dari masa ke masa, cenderung menampilkan berbagai liku-liku yang turut menentukan studi itu sendiri. Bahkan ketika istilah “dogma” dan “dogmatika” diperkenalkan dalam khazanah gereja, bahkan menurutnya untuk waktu yang lampau dogmatika biasanya dianggap sebagai “pusat” teologi. Sehingga ada anggapan bahwa siapa yang mengajarkan dogmatika, seakan-akan ia memegang “nafas” teologi. Namun seiring perkembangan dan perubahan zaman, turut memberikan pembaharuan teologi, sehingga kendati tetap penting tetapi tidak harus memiliki “keunggulan” dibanding bidang-bidang teologi lainnya.

Studi dogmatika satu hal yang pasti adalah Allah tidak dapat menjadi objek. Para ahli dogmatika berpendapat bahwa ketimbang Allah sebagai objek, maka isi kepercayaanlah yang mestinya menjadi titik perhatian kita. Pemikiran ini sebetulnya menggambarkan pemakaian yang lazim digunakan di dataran Eropa, khususnya Jerman dan Belanda yang sedikit banyaknya sangat mempengaruhi corak dogmatis di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Hal terpenting yang perlu digaris bawahi adalah studi dogmatika selalu dilihat bersifat gerejawi. Hal ini nampak dalam Karl Barth yang sangat terkenal itu Kirchliche dogmatik” (dogmatika gerejawi). Dogmatika dalam hal demikian harus pula merefleksikan iman jemaat. Kendati demikian, tidak berarti bahwa studi dogmatika menolak upaya-upaya penyelidikan, penelitian, pertanyaan-pertanyaan dan pemikiran kritis, maupun konstruktif. Malahan studi dogmatika mendorong ke arah itu.

Menurut Yewangoe, jika kita membaca karya dogmatika yang selama ini ditulis, terlihat bahwa ada dialog antara iman yang diwarisi orang Kristen dengan filsafat. Para teolog, seperti H. Bavinck, John Macquarrie bahkan Paul Tillich telah memperlihatkan studi dogmatika yang tidak bisa terhindarkan dari pandangan-pandangan filsafat yang muncul sebagai refleksi perkembangan berpikir di dalam masyarakat dan pada saat yang sama pula ikut membentuk perilaku masyarakat. Sehingga studi dogmatika berusaha menempatkan warisan Kristen maupun pandangan filsafati dalam suatu sistem yang bisa diteliti dan dipelajari.

Dalam disiplin ilmu teologi, dogmatika tergolong dalam teologi sistematika. Meskipun ada pula teolog seperti F. Schleimacher yang menggolongkan dogmatika dalam teologi sejarah, namun banyak ahli dogmatika menyetujui penggolongan ini. Yang berdiri berdampingan dengan etika. Biasanya dogmatika disebut sebagai credenda dan etika sebagai agenda. Keduanya sangat berhubungan erat, menurut H. Bavinck dogmatika menggambarkan perbuatan-perbuatan Allah bagi, untuk dan di dalam manusia, sedangkan etika menggambarkan perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia yang diperbaharui itu atas dasar dan dengan kekuatan dari perbuatan Allah. Dalam dogmatika manusia pasif, ia menerimanya dan mempercayainya, sedangkan dalam etika mansuia itu sendiri tampil dan berbuat.

Dengan mengutip gagasan Gerhard Ebeling, Yewangoe memperlihatkan sifat studi dari dogmatika, yaitu apakah bersifat ajektif saja, yang berarti sesuatu yang formal, yang didaktik, atau juga mengekspresikan objek yang diajarkan, yaitu dogma. Oleh karena itu, dengan memperlihatkan keterhubungan antara “dogma” dan “dogmatika” setidaknya memperlihatkan bahwa dogmatika sebagai the science of dogma. Menurutnya dogmatika pada mulanya tidak mempranggapkan adanya suatu dogma yang dirumuskan secara gerejawi dan otoritatif, tetapi dikaitkan secara kritis dengannya. Olehnya sifat dogmatika harus menuntut klarifikasi dan argumentasi khusus mengenai kandungan teologisnya. Relasi “dogma” dan “dogmatika” bagi Ebeling, mengingatkan bahwa teologi berurusan dengan Allah dan atas alasan itu dengan iman melalui ajaran/doktrin. Tetapi yang dikatakan oleh iman Kristen bukanlah sekedar ungkapan-ungkapan perasaan, melainkan juga mengemban juga watak kebenaran yang mestinya bisa ditampialkan dan didiskusikan secara publik. Hubungan ini memperlihatkan sebuah penegasan untuk mempertanggungjawabkan relasi antara iman dan akal, sehingga iman bukanlah sesuatu yang buta dan yang tidak bisa dipikirkan. Dogmatika mendorong bagi terjadinya pemahaman terhadap iman, dan menggali dalamnya kekayaan gagasan-gagasan yang tidak habis-habisnya. Sehingga “dogma” dan “dogmatika” ingin mengungkapkan bahwa ajaran mengenai iman adalah doktrin yang jelas, tentu dan pasti.

Untuk konteks Indonesia, Yewangoe memperlihatkan kemajuan studi dogmatika yang kian menjadikan kontekstualisasi sebagai imperatif studi dogmatika. Meskipun studi dogmatika itu sendiri sudah dimulai atau sama tuanya dengan sekolah-sekolah teologi yang didirikan oleh gereja-gerjea. Namun tetap memperlihatkan kemajuan ke arah yang lebih baik. Upaya untuk melepaskan dogmatika dari cab ke-Barat-annya seakan kini menjadi pergumulan studi-studi dogmatika yang makin menggeliat dimana-mana dengan tak terbendung lagi. pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang diajukan tidak lagi berhubungan dengan filsafat sebagaimana yang berkembang di Eropa, tetapi bagaimana perjumpaan gereja dengan agama-agama lain termasuk agama suku, realitas kemiskinan, penindasan, pembangunan ataupun perjumpaan-perjumpaan kemanusiaan lainnya, dimana gereja turut ada dan terlibat didalamnya. Meskipun upaya itu giat dilakukan, namun Yewangoe meyakini bahwa berbagai studi dogmatika itu tetap dilakukan dengan menampakan kecintaan yang mendalam kepada Kristus, Sang Inkarnasi Allah dalam konteks kita. Sebab memang kita tidak mungkin menjadi anak durhaka yang melupakan warisan dan tradisi yang diturunkan kepada kita (Bersambung).

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.