005. Beberapa Pikiran Mengenai Perkembangan Dogmatika di Indonesia
005. BEBERAPA PIKIRAN MEGENAI PERKEMBANGAN DOKMATIKA DI INDONESIA
Pokok ini dikhususkan dengan memberikan sedikit pikiran mengenai perkembangan studi dogmatika di Indonesia:
(a). Meskipun studi dogmatika telah sama tuanya dengan lembaga-lembaga pendidikan teologi yang didirikan oleh gereja-gereja, namun dalam kurun waktu yang lama itu pula studi dogmatika terkesan tidak bisa melepaskan diri dari cab ke-Barat-annya sebagai hasil pekabaran injil dari bangsa-bangsa Eropa, khususnya Jerman dan Belanda. Seiring perkembangannya ketika istilah kontekstualisasi,diperkenalkan oleh salah seorang teolog Asia, yaitu Shoki Coe dalam sebuah diskusi oikumenis untuk menggantikan istilah-istilah sebelumnya, yaitu pembribumian, indegenisasi, atau theology in loco. Maka akhir-akhir ini upaya-upaya kontekstualisasi memperoleh stimulus yang kuat bahkan merupakan imperatif keharusan berteologi, seiring itu pula studi dogmatika ikut terkena pengaruhnya. Apalagi ketika Thelogical Education Found menekankan perlunya kontekstualisasi, khususnya di Dunia Ketiga, maka sekolah-sekolah teologi termasuk di Indonesia berusaha meninjau kembali secara kritis berbagai rumusan-rumusan teologinya. Pengalaman gereja-gereja di Amerika Latin (teologi Pembebasan), Asia (teologi agama-agama, teologi minjung, teologi dalit) ataupun di Afrika (perjumpaan dengan budaya dan agama suku) cukup memberikan stimulus yang kuat bagi perbaikan studi dogmatika kita di Indonesia yang dikiatkan oleh para ahli-ahli dogmatika hingga kini. Dengan mencarikan formula-formula studi dogmatika yang sungguh-sungguh ala Indonesia. Oleh karena itu, memang benar apa yang dikatakan Yewangoe bahwa kontekstualisasi tidak harus menjadi mata kuliah tersendiri, melainkan kontekstualisasi mestinya menjiwai dan menggerakan seluruh matakuliah-matakuliah teologi, termasuk dogmatika.
(b). Ada peristiwa penting yang menentukan arah dan perkembangan baru dalam sejarah pendidikan teologi di Indonesia, yaitu Konsultasi Teologia I yang diselenggarakan oleh Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (mengganti nama menjadi PGI di Ambon) pada tahun 1970 di Sukabumi yang menghasilkan pergumulan rangkap yang menjadi paradigma pendirian teologis. paradigma ini, ingin dikatakan bahwa gereja-gereja di Indonesia, termasuk dalamnya pendidikan teologi dan pengembangan ilmu teologi, memiliki pergumulan rangkap, yaitu bergumul dengan pada satu pihak dan sekaligus bergumul dengan masyarakat Indonesia yang sedang memulai pembangunan nasional. Pergumulan ini secara metodologis, memperlihatkan relevansi Firman Allah dalam bentuk kesaksian Alkitab selalu harus digumuli dalam setiap konteks dan sebaliknya.
(c). Ada hal terpenting yang harus digarisbawahi dalam tuntutan kontekstualisasi, yaitu studi dogmatika tetaplah bersumber pada Alkitab. Ketersesuaian teks-teks Kitab suci sebagai sumber studi dogmatis dengan konteks haruslah dilakukan dalam dialog yang saling menghormati dan bawah ketaatan kepada Allah. Mengapa ini penting ditekankan, sebab adakalanya tuntutan kontekstualisasi kemudian memberi penghormatan lebih kepada konteks (dalam hal ini budaya) dan sering dilakukan tidak menghormati injil. Sehingga teologi acapkali jatuh dalam romantisme budaya yang kurang menghargai injil.
(d). Sepakat dengan Becker yang mengusulkan metode studi dogmatika haruslah dilakukan dalam tiga langkah yaitu pertama, menentukan masalah dalam situasi sekarang; kedua, mengerjakan masalah tersebut secara eksegetik dan historis; dan ketiga, menentukan tanggapan secara kontekstual. Olehnya pekerjaan pokok dari studi dogmatis adalah haruslah memperlihatkan tolak ukur ganda, yaitu kesesuian dengan Kitab Suci dan kesesuian dengan situasi masa kini. Sehingga anggapan bahwa pekerjaan dogmatika sama dengan tugas khotbah (homiletika), mungkin ada benarnya dimana dialog antara teks dan konteks harus terjadi sedemikian rupa sehingga pendengar masa kini diterangi cahaya Firman Allah.
006. PENUTUP
Berbagai pikiran di atas sebetulnya menggambarkan bahwa geliat studi dogmatis menunjukan perkembangan di sana sini, itu berarti jika ada anggapan bahwa dogmatika adalah ilmu mandeg, tidak berkembang, tidak boleh di otak atik sebab telah menjadi dogma adalah keliru bahkan salah. upaya kontekstualisasi dogmatika tidak bisa dihentikan, malah akan semakin digiatkan dalam masa-sama mendatang lagi.
Demikian.
Daftar Bacaan
~ Becker, Dieter., Pedoman Dogmatika; Suatu Kompadium Singkat, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1991
~ Berkhof, Hendrikus., Introduction to The Study of Dogmatics, 1988
~Drewes, B.F. & Julianus Mojau., Apa Itu Teologi, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2003
~ Hadiwijono. Harun., Iman Kristen, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1995
~ Jongeneel, J.A.B., Pembimbing Ke Dalam Dogmatika Kristen, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2007
Soedarmo, R., Ikhtisar Dogmatika, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1992
~ Van Niftrik,G.C., dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2001
Yewangoe, A.A., dkk., (peny.), Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2004


Tidak ada komentar: