Siapa Al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāt menurut Islam?

Menurut literatur Islam—khususnya Al-Qur’an serta catatan sejarah Islam (Sirah dan Hadis)—Al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāt adalah dewi-dewi terkenal yang disembah oleh bangsa Arab pra-Islam pada masa Jahiliyah, yang oleh Al-Qur’an dengan tegas disebut sebagai berhala palsu.

Bagi orang Kristen yang sedang mempelajari topik ini, sumber-sumber Islam menekankan bahwa ketiga sosok ini adalah simbol utama politeisme Arab yang kemudian dihapus total dan digantikan dengan tauhid murni.

1. Siapa Mereka?

  • Al-Lāt (Sang Dewi)
Dikaitkan dengan kemakmuran dan peperangan, sering digambarkan sebagai batu putih besar di Thaif.
  • Al-‘Uzzā (Yang Maha Perkasa)
Dikaitkan dengan kekuatan, perlindungan, dan kemenangan. Ia adalah dewi utama suku Quraisy (suku Nabi Muhammad), dengan tempat pemujaan di Nakhla.
  • Manāt (Dewi Takdir/Kematian)
Yang paling tua di antara ketiganya. Diyakini mengatur nasib dan disembah di daerah Qudayd, antara Mekkah dan Madinah.

2. Konsep “Anak-Anak Perempuan Allah”

Bangsa Arab pra-Islam tidak menganggap mereka setara dengan Tuhan, tetapi menjadikan mereka sebagai perantara atau “anak-anak perempuan Allah.”

  • Bantahan Islam:
Al-Qur’an (Surah An-Najm 53:19–23) secara langsung menyinggung hal ini dan menyebut mereka hanya sebagai nama-nama yang dibuat-buat oleh nenek moyang mereka, tanpa ada otoritas dari Allah untuk menyembahnya.

  • Sindiran terhadap Kaum Musyrik:
Literatur Islam juga menyoroti ironi bahwa orang-orang pagan lebih menyukai anak laki-laki untuk diri mereka sendiri, tetapi justru menisbatkan anak perempuan kepada Allah. Al-Qur’an menyebut pembagian seperti itu sebagai sesuatu yang tidak adil.

3. Penghancuran Tempat Pemujaan

Sumber-sumber Islam mencatat penghancuran sistematis terhadap berhala-berhala ini setelah Islam berkembang.

  • Khalid ibn al-Walid Khalid bin Walid diutus oleh Nabi Muhammad Muhammad untuk menghancurkan tempat pemujaan al-‘Uzzā dan Manāt.
  • Tempat pemujaan al-Lāt di Thaif juga dihancurkan, lalu dibangun masjid di lokasinya.

4. Pelajaran Penting dalam Literatur Islam

  • Larangan Menjadikan Perantara
Islam mengajarkan bahwa tidak ada makhluk—termasuk dewi-dewi ini ataupun malaikat—yang memiliki kuasa memberi syafaat tanpa izin Allah.

  • Penyucian Ka'bah
Sebelum Islam, Ka'bah dikelilingi sekitar 360 berhala, termasuk tiga dewi ini. Penolakan terhadap mereka melambangkan pemurnian total Ka'bah sebagai tempat ibadah hanya untuk satu Tuhan.

  • Perbedaan dengan Kekristenan
Walaupun Kristen memiliki konsep Trinitas yang lebih kompleks dan bernuansa, Islam membawa konsep monoteisme yang sangat tegas dan numerik, yang menolak segala bentuk banyak entitas ilahi atau konsep “anak-anak Tuhan.”

Catatan Tambahan

Sebagian sumber online menyebut kisah “Ayat-Ayat Setan” yang berkaitan dengan dewi-dewi ini. Namun banyak ulama Islam menganggap riwayat-riwayat tentang peristiwa tersebut lemah atau bahkan palsu. Karena itu, penekanan utama dalam Islam tetap pada penolakan Al-Qur’an secara resmi terhadap penyembahan dewi-dewi tersebut.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.