Siapa Al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāt menurut Islam?
Menurut literatur Islam—khususnya Al-Qur’an serta catatan sejarah Islam (Sirah dan Hadis)—Al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāt adalah dewi-dewi terkenal yang disembah oleh bangsa Arab pra-Islam pada masa Jahiliyah, yang oleh Al-Qur’an dengan tegas disebut sebagai berhala palsu.
Bagi orang Kristen yang sedang mempelajari topik ini, sumber-sumber Islam menekankan bahwa ketiga sosok ini adalah simbol utama politeisme Arab yang kemudian dihapus total dan digantikan dengan tauhid murni.
1. Siapa Mereka?
- Al-Lāt (Sang Dewi)
- Al-‘Uzzā (Yang Maha Perkasa)
- Manāt (Dewi Takdir/Kematian)
2. Konsep “Anak-Anak Perempuan Allah”
Bangsa Arab pra-Islam tidak menganggap mereka setara dengan Tuhan, tetapi menjadikan mereka sebagai perantara atau “anak-anak perempuan Allah.”
- Bantahan Islam:
- Sindiran terhadap Kaum Musyrik:
3. Penghancuran Tempat Pemujaan
Sumber-sumber Islam mencatat penghancuran sistematis terhadap berhala-berhala ini setelah Islam berkembang.
- Khalid ibn al-Walid Khalid bin Walid diutus oleh Nabi Muhammad Muhammad untuk menghancurkan tempat pemujaan al-‘Uzzā dan Manāt.
- Tempat pemujaan al-Lāt di Thaif juga dihancurkan, lalu dibangun masjid di lokasinya.
4. Pelajaran Penting dalam Literatur Islam
- Larangan Menjadikan Perantara
- Penyucian Ka'bah
- Perbedaan dengan Kekristenan
Catatan Tambahan
Sebagian sumber online menyebut kisah “Ayat-Ayat Setan” yang berkaitan dengan dewi-dewi ini. Namun banyak ulama Islam menganggap riwayat-riwayat tentang peristiwa tersebut lemah atau bahkan palsu. Karena itu, penekanan utama dalam Islam tetap pada penolakan Al-Qur’an secara resmi terhadap penyembahan dewi-dewi tersebut.


Tidak ada komentar: